Connect
To Top

Iman Sotirio dari Keluarga Kristen Ortodoks Terpikat Islam

hanivamagazine.com – Iman Sotirio Kouvalis tumbuh dan besar di Ontario, Kanada ini mengaku benar-benar berpikir bahwa semua orang di dunia adalah orang Kristen. Itu terjadi sekitar 10 tahun sebelum peristiwa 11 september yang menghancurkan Gedung WTC Amerika.

Iman dibesarkan di tengah keluarga Ortodoks Yunani. Setiap minggu rajin menghadiri gereja. Anehnya ia tidak merasakan ketenangan. Katanya, ia justru bingung karena banyak pertanyaan tidak bisa dijawab oleh pendetanya

Iman mengaku, ia tak bisa melihat agama relevan dengan kehidupan sehari- hari. Ia pun mulai menjauh dari gereja.
Di tengah kekosongan batin, Iman melihat perempuan Muslim di kampusnya. Ia merasa mereka kaum tertindas dan perlu dikasihani. Karenanya ketika bertemu, berpapasan jalan atau di kafetaria ia melemparkan senyum persahabatan. Ia berasumsi mereka dipaksa berpakaian demikian.

Namun di situlah perkenalannya dengan Islam. Meski mengira mereka tertindas, tetapi ia melihat kebahagiaan dan kedamaian di wajah mereka. Ia bertanya tanya dalam hati apa yang membuat mereka demikian damai.

Setelah berinteraksi dengan mereka di kampus, Iman mulai mempertanyakan dan berdebat agama dengan kawan-kawan Muslimnya. Dan ia sangar terkejut ketika mereka menyatakan percaya pada Yesus. “Mereka menghormati Yesus bukan sebagai Tuhan, tapi utusan Tuhan dan salah satu nabi mereka,” katanya.

Iman makin penasaran. Di perpustakaan diam diam ia mencari literatur Islam. Sayangnya ia hanya menemukan buku-buku tua dan aneh. Saat itu adalah zaman pra-Google sehingga tidak ada sumber informasi lain yang bisa dikoreknya.

Suatu hari, saat berjalan menyusuri salah satu aula universitas ia melihat beberapa pamflet di dinding tentang Islam. Sakah satunya membuatnya takjub karwna isinya berbicara tentang isyarat Muhammad dalam Alkitab. “Awalnta aku pikir bohong. Jadi aku memeriksa dalam Alkitab, ternyata benar,” katanya.

Di situlah mulau muncul kebimbangan dan pertanyaan-pertanyaan esensial akan Tuhan dan agama. Hingga ia putuskan membaca lagi Alkitab lebih dalam. “Tapi kali ini dalam rangka untuk menemukan jawaban atas pertanyaanku,” katanya.

Setelah berbulan-bulan ia tidak tahan lagi dan memutuskan untuk menemui pendeta. “Aku ajukan tiga pertanyaanku: Jika Yesus mati untuk dosa-dosa kita dan kita hanya perlu percaya ini untuk diselamatkan dan masuk surga, berarti aku dapat melakukan dosa dan dosa tanpa takut? Bagaimana bisa Tuhan 3 in 1? Apa pendapat Anda tentang Islam?”

Dan jawaban-jawabannya menurut Iman ada banyak ambiguitas. “Ketika sampai ke pertanyaan ketiga, matanya melotot keluar dan wajahnya memerah! Ia memintaku untuk menjauh dari orang-orang yang mempengaruhiku hingga bertanya demikian.”
“Untuk pertama kalinya, hal ini menyebabkan celah pasti dalam imanku. Aku justru makin menemukan jawaban,” katanya.
Iman akhirnya belajar sendiri secara intens dan kritis. Dan hatinya makin condong pada Islam. Ia merasa menemukan kebenaran dan jawaban-jawaban pertanyaannya. Namun, ia masih ragu dan takut akan reaksi teman-teman terdekat dan keluarganya. Ia takut menyakiti hati mereka.

Namun, setelah bertemu ayat 113-115 dalam surat Ali Imran, hatinya benar-benar terbuka.Iapun memutuskan bersyahadat.
“Aku datang pada Islam melalui buku. Melalui studi kritis dan intens seperti mualaf lain. Bagaimana pun kita berutang kepada diri sendiri untuk menemukan jawaban. Karena kita tidak tahu kapan kita akan mati. Dan untuk mengetahui bahwa Tuhan memberikan kita pikiran untuk berpikir kritis. Its ok untuk kita mengajukan pertanyaan dan it’s ok untuk menemukan jawaban.”
Rdh / Berbagai Sumber

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in INSPIRING